Bahasa Indonesia
Menjadi Bahasa Peradaban Dunia
(Oleh Cepy Kurniawan)
Bahasa merupakan media untuk
menyampaikan pesan atau informasi dari satu individu kepada individu lain atau
lebih. baik itu secara lisan maupun tulisan. Pernyataan tersebut sangat benar
dan sudah menjadi aksioma. Satu orang pun tidak ada yang akan membantah dengan
pernyataan tersebut. Dalam kehidupan sehari-hari hampir semua aktifitas kita
menggunakan bahasa, baik menggunakan bahasa lisan, bahasa tulisan maupun bahasa
tubuh. Bahkan saat tidur pun terkadang kita tanpa sadar menggunakan bahasa.
Sebuah bangsa pasti memiliki bahasa,
walaupun ada beberapa bangsa yang meminjam bahasa dari bangsa lain. Kita
sebagai masyarakat bangsa Indonesia sangat beruntung memiliki bahasa Indonesia,
walaupun sebenarnya bahasa Indonesia berakar dari bahasa Melayu Riau. Akan
tetapi, sekarang bahasa Indonesia adalah bahasa Indonesia, dan bahasa Melayu
adalah bahasa Melayu, dua bahasa yang serumpun tapi tidak sama. Bahasa
Indonesia berkembang dengan sendirnya sesuai dengan aturannya, dan bahasa
Melayu berdiri sendiri menuju perkembangannya. Setujukah Anda bila bahasa
Indonesia bukan bahasa Melayu?
Kita sebagai pemilik bahasa Indonesia
bukanlah bermaksud atau bersikap seperti “kacang yang lupa akan kulitnya”, melupakan
bahasa Melayu sebagai cikal bakal bahasa Indonesia. Mungkin tanpa bahasa
Melayu, bahasa Indonesia tidak akan pernah ada. Akan tetapi, kita ingin
memposisikan bahasa Indonesia pada posisinya, seperti yang telah termaktub
dalam Sumpah Pemuda. Sumpah Pemuda mengikrarkan tiga hal yang sakral dalam
sejarah dan proses kemerdekaan Indonesia, satu diantaranya adalah “Menjunjung
tinggi bahasa persatuan, bahasa Indonesia. Menjunjung berarti menurut, menaati
dan memuliakan (KBBI). Menjunjung tinggi bahasa Indoensia, berarti menaati dan
memuliakan bahasa Indonesia sebagai bahasa peratuan dan nasional Indonesia.
Demikianlah sumpah yang diikrarkan oleh pemuda-pemudi bangsa Indonesia pada
tahun 1928. Bagaimana dengan pemuda-pemudi Indonesia sekarang??
Melihat kondisi pemakai bahasa
Indonesia sekarang, sepertinya cape deh harus menggunakan bahasa Indonesia yang
berkelit dan selalu berpedoman kepada yang baik dan benar.
“Yang penting apa yang ingin kita sampaikan orang mengerti
dan paham, mau pake bahasa campur aduk kek, saya mau pake bahasa Indonesia
campur bahasa Inggris kek,campur lagi dengan bahasa daerah kek, toh yang baca
juga paham. Cape deh, please dong jangan diperbesar masalah-masalah kecil
kayaki gini”.
Benar dan pantaskah bila kita sebagai
pemilik bahasa Indonesia berasumsi demikian? Masyarakat Indonesia pada umumnya
dwibahasawan. Akan tetapi, bukan berarti kita bisa seenaknya mencampuradukkan
bahasa Indonesia dengan bahasa lain tanpa mengindahkan aturan dan kaidah yang
ada. Bersikap positiflah terhadap bahasa Indonesia, karena bahasa yang kita
gunakan menunjukkan kepribadian kita sebagai bangsa Indonesia. Jepang dan
Prancis adalah contoh negara yang sangat taat dan menghargai bahasanya sendiri.
Pernahkah kita berpikir bahasa
Indonesia esok akan menjadi bahasa peradaban dunia?
Bukan hal yang mustahil bahasa
Indonesia esok akan menjadi bahasa perdaban dunia, bahasa yang digunakan
sebagai bahasa internasional. Dilihat dari struktur dan pembacaan bahasa
Indonesia yang sangat sederhana, bahasa Indonesia merupakan bahasa yang tidak
sulit untuk dipelajari. Suatu bukti yang meyakinkan bila esok bahasa Indonesia
akan menjadi bahasa peradaban dunia, lebih dari 50 negara di Dunia telah
mempelajari dan menjadikan bahasa Indonesia sebagai satu diantara mata
pelajaran di sekolah mereka. Kita sebagai pemilik bahasa Indonesia harus
banggga karena bahasa kita dipelajari bangsa lain. Mengapa kita harus belajar
bahasa asing, bila bahasa kita kelak mampu menjadi bahasa Internasional dan
bahasa peradaban dunia?
Jawaban dari pertanyaan tersebut ada
pada diri kita sebagai pemilik dan pengguna bahasa Indonesia. Kita harus
konsisten dan bersikap positif terhadap bahasa Indonesia. Menggunakan bahasa
Indonesia yang baik dan benar sebenarnya tidak sulit, yang membuat sulit karena
kita telah terbiasa dengan kesalahan yang ada dan selalu cape’ untuk
mempelajarinya dengan segala kerendahan hati. Kita selalu beranggapan, “untuk
apa mempelajari bahasa Indonesia, bukankah kita orang Indonesia yang secara
otomatis mengerti menggunakan bahasa Indonesia”. Bilamana pendapat ini terus
berkembang, pupus sudah harapan kita menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa
perdaban dunia.
Hidup bahasa Indonesia!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar